5 Anime Penerus Spiritual yang Gagal

Ada beberapa anime yang mengambil inspirasi dari judul-judul sebelumnya. Berharap bisa meraih kesuksesan yang sama. Tentu saja urusan tidak semudah salin tempel.

Definisi gagal dalam artikel kali ini adalah anime yang tidak mampu memberikan hiburan kepada penonton secara memuaskan. Lebih banyak suara kekesalan di forum karena perkembangan cerita yang tidak sesuai ekspektasi. Tentu saja ini menjadi relatif, sebab kisah yang tidak bagus pun kadang ada yang tetap suka dengan visual sehingga memberikan kontribusi keuntungan.

Vividred Operation

Vividred Operation pada saat diumumkan adalah anime original yang terlihat ambisius. Dengan pendanaan Aniplex, mereka dengan mudah membuat promosi di sana sini termasuk pemuatan artikel di majalah Nyantype. Setelah itu sangat jelas bahwa anime ini terinspirasi dari Strike Witches namun dalam balutan power armor ala mahou shoujo.

Sutradara anime ini pun sangat menyukai pantat gadis remaja. Tidak jauh berbeda dengan Strike Witches, banyak pengambilan sudut kamera yang diarahkan ke pantat.

Bahkan cover majalah menyandingkan Akane dengan Miyafuji.

Musuh di Vividred yang disebut Alone juga menyerupai Neuroi. Didominasi warna hitam dengan sejumlah pernak-pernik merah. Musuh menembak laser yang dengan mudah merontokkan arsenal modern.

Sebetulnya untuk urusan visual, seri ini tampak meyakinkan. Desain karakternya bisa mudah menarik penggemar anime. Premise cerita di awal cukup menarik. Sayangnya setelah memasuki episode ketujuh hingga ending, plotnya sedikit mengemulasi formula Madoka malah membuat kacau. Fanservice yang disediakan sudah tidak membantu.

Dari sisi penjualan, Vividred Operation tampak bagus dengan rerata 5500 keping per volume. Manga cuma bertahan dua volume dan game mendapat predikat game terburuk tahun 2013. Bila dibandingkan dengan Strike Witches yang masih hidup, seri ini gagal sebagai franchise. Aniplex lebih banyak membakar uang. Seri ini dilupakan begitu saja setelah satu tahun. Tidak ada seri baru atau rencana untuk memerah franchise secara habis-habisan dengan melakukan berbagai kolaborasi.

Seiren

Kala diumumkan, anime original Seiren menggandeng desainer karakter Takayami Kisai yang dikenal melalui dating sims sekaligus adaptasi anime Amagami. Secara perlahan diungkap bahwa seri ini menggunakan formula yang sama dengan Amagami, bahkan para karakter sekolah di tempat yang sama. Sejumlah artwork yang dirilis pun menyerupai Amagami.

Kolam yang sama dengan sudut pengambilan berbeda.

Awalnya di key visual ada enam karakter perempuan utama. Bila mereka mendapat jatah empat episode dengan format omnibus, harusnya seri ini ada 24 episode. Metode produksi split season agar beban staff tidak terlalu berat. Sayangnya dari enam karakter utama, hanya tiga yang berhasil dikisahkan di layar kaca. Sisa tiga lainnya batal karena komite produksi tidak mau mendanai kelanjutan akibat hasil penjualan BD Seiren sangat mengenaskan. Hanya sekitar 900 per volume.

Penyebab penjualan yang gagal total ini karena cerita Tsuneki, karakter paling pertama, membuat kesal banyak penonton. Ini tidak hanya di Jepang, bahkan dari mancanegara banyak yang mengungkapkan kekecewaannya melalui sosial media dan forum diskusi.

Kisah Tsuneki berakhir dengan studi di luar negeri. Si karakter pria seperti tidak punya testis untuk menghadang atau minimal nekat ikut. Dia mengikhlaskan begitu saja sambil menanti beberapa tahun. Para penonton berargumen, karakter dengan model Tsuneki suka main-main. Apalagi ke luar negeri yang susah diawasi. Pulang ke Jepang pun sudah dianggap “tidak murni” lagi.

Kekesalan dengan ending karakter pertama membuat sebagian besar penonton ogah-ogahan meneruskan seri. Sebetulnya sisa dua cerita tidak seburuk bagian pertama. Hanya saja Tsuneki tetap muncul sebagai karakter sampingan yang kembali mengingatkan penonton.

Koutetsujou no Kabaneri

Anime original yang diproduksi studio WIT, sama yang mengurusi Attack on Titan. Mereka banyak meminjam konsep di Attack on Titan menjadi sebuah anime yang jauh lebih kacau. Di sini ada zombie yang disebut kabaneri dan kehidupan manusia tersudut di balik benteng. Satu-satunya harapan adalah saat sang tokoh utama akhirnya memiliki kekuatan kabaneri tanpa kehilangan daya pikir yang membuatnya manusia. Senjata menggunakan kekuatan uap untuk menembus jantung kabaneri.

Perlengkapan yang digunakan membutuhkan bantuan tekanan udara. Attack on Titan menggunakan gas, KnK menggunakan uap.

Cerita menuju kebobobrokan saat diperkenalkan antagonis bernama Biba. Awalnya tentang upaya manusia bertahan hidup dari serangan kabaneri, kini justru direpotkan musuh dalam selimut. Masalahnya antagonis ini tujuan jahatnya terkesan bego dan kekanak-kanakan.

Seri ini termasuk anomali. Meski dari segi cerita jauh dari sempurna, penjualan BD termasuk lumayan. Sebuah game smartphone juga dirilis. Mereka juga akan meneruskan cerita melalui format movie.

Gokkoku no Brynhildr

Seri ini menyerupai Elfen Lied karena dibuat oleh manga-ka yang sama, Okamoto Lynn. Manga-ka yang satu sering menggambar guro terutama dengan tokoh gadis perempuan. Kedua karyanya, Elfen Lied dan Gokkoku no Brynhildr mendapat adaptasi anime yang tak utuh dan menyimpang dari kisah asli. Hanya saja Gokkoku no Brynhildr menghasilkan cerita yang lebih buruk. Seberapa buruk seri ini? Sampai tidak ada yang bisa diingat. Bagi yang ingin mencoba membaca manga pun harus siap kecewa. Karena endingnya jauh dari bagus.

Guilty Crown

Penulis naskah Guilty Crown dan Code Geass adalah orang yang sama, Ichirō Ōkouchi. Basis cerita juga mirip. Kelompok perlawanan berusaha membebaskan Jepang dari GHQ. Karakter utama Ouma Shu bertemu gadis misterius yang memberikan kekuatan Void. Dalam Code Geass, Lelouch bertemu C.C. yang memberikan kekuatan Geass kemudian membuat kelompok perlawan Kuro no Kishidan. Sayangnya unsur mecha di Guilty Crown kurang ditekankan.

Teman dekat karakter utama yang mati konyol.

Guilty Crown pada saat ditayangkan menarik banyak penonton penggemar anime. Kisah Guilty Crown masih seru hingga episode ke-11. Bila mereka mengakhiri pada episode tersebut, seri ini cukup menghibur. Ternyata kisah dikonsep berlanjut hingga episode ke-22. Sejak saat itu secara perlahan tapi pasti kualitas ceritanya mengalami penurun. Banyak kejadian tak masuk akal, terkesan memaksa. Membuat sebagian besar penonton mengejek perkembangan cerita.

Rerata penjualan BD Guilty Crown sebetulnya bagus. Mencapai 7000 per volume. Sebagian penggemar anime yang masih hijau pun menganggap Guilty Crown lumayan karena keblinger dengan visual dan tetek Inori. Tetapi protagonis Ouma Shu yang cenderung cengeng menambah kekesalan penonton. Tidak memiliki kharisma yang sama dengan Lelouch.

Berbeda Code Geass yang masih bisa diperah hingga sekarang, komite produksi Guilty Crown sepertinya tidak mau ambil resiko membuat proyek sampingan baru. Anehnya yang masih hidup dari franchise ini adalah EGOIST, band virtual pengisi soundtrack. Tak lama lagi akan mengadakan konser di Indonesia pada September tahun ini.

Daftar ini memang subjektif. Pastinya ada yang tidak setuju. Sebelum melontarkan sanggahan, coba tonton kembali dari episode perdana hingga tamat. Apakah masih bisa merasa terhibur saat menonton ulang?