Kapan Seri Anime Favoritku Mendapat Season Baru?

Banyak faktor yang mempengaruhi penyebab suatu anime tidak mendapatkan kelanjutan atau season baru. Paling penting dalam industri ini adalah, tentu saja uang.

Ujung-ujungnya Duit

Memproduksi anime membutuhkan dana yang tidak sedikit. Bahkan korporasi besar pun masih perlu bekerja sama dengan perusahaan lain untuk memproduksi anime. Kalian biasanya mengenal dengan nama Kadokawa, Bandai Visual, Aniplex dan TOHO Animation.

Jangan salah, mereka ini bukan studio. Melainkan perusahaan yang biasanya menggelontorkan dana paling banyak untuk produksi anime. Seringnya mereka menggandeng label musik seperti Pony Canyon, Lantis, Sony Music Entertainment Japan, Avex, King Record dan masih banyak lainnya. Kadang kala mereka juga bekerja sama dengan industri lain misalnya NTT Docomo, Bushiroad, maupun studio game bila yang diproduksi masih berkaitan dengan video game.

Kalian bisa melihat contohnya pada video berikut ini. Hanya akan muncul di versi TV RAW. Bagi kalian yang selalu mengunduh dengan subtitle, biasanya bagian pengumuman sponsor 10 detik sudah dibuang dari video.

Sederhananya, para sponsor ini ikut membantu dana secara urunan. Sebagai gantinya mereka boleh memproduksi merchandise, event atau apapun yang masih berkaitan dengan yang didanai. Tentunya sesuai kontrak yang telah ditanda tangani.

Setelah anime tayang pun, belum tentu sukses mendulang profit. Kata kunci utama adalah profit alias keuntungan. Kesuksesan ini paling terlihat dalam dua hal. Jumlah penjualan BD dan penjualan merchandise resmi.

Ada penonton yang merespon dengan baik. Misalnya seri K-ON dan Yurucamp yang BD-nya rata-rata tembus 10.000 per volume ditambah merchandise-nya masih laku hingga sekarang. Ada pula yang gagal total seperti Seiren dengan penjualan kurang dari 1.000 per volume dan tidak banyak merchandise yang diproduksi. Bagaimana bisa tahu angka-angka ini? Ada situs yang didedikasikan untuk melacak penjualan BD setiap minggu.

Umumnya seri yang bakal mendapat kelanjutan memiliki penjualan BD rata-rata 5.000 keping per volume. Apalagi yang tembus 25.000 keping per volume seperti seri Monogatari bakal dilanjutkan terus sampai terlihat tren penurunan penjualan. Bila grafik penjualan menurun, biasanya perusahaan merasa cukup dan tidak mau mengeluarkan dana untuk seri baru. Tentu saja ada pengecualian untuk sejumlah judul yang sepertinya komite produksi pokoknya nekat meski sadar nanti seri baru tidak akan mendapat sambutan meriah.

Sebelum kalian menyela, “Lho anime kan tayang di TV. Nonton TV pakai antena kan gratis-gratis saja. Ngapain harus beli BD-nya yang mahal kalau bisa download.” Ini adalah hal yang berbeda sebab penayangan itu ditujukan hanya untuk konsumsi wilayah Jepang. Sedangkan file unduhan yang kalian dapat umumnya dari rekaman DVR, seharusnya untuk konsumsi pribadi. Bukan untuk didistribusikan secara cuma-cuma.

Kalian mungkin tidak pernah menonton langsung/streaming siaran yang asli dari TV-nya. Bila kalian sadar di tengah anime sekitar 15 menitan biasanya ada jeda. Itu digunakan untuk iklan, terutama mengingatkan penonton untuk membeli BD-nya. Selain lebih bening, BD anime di Jepang pun bukan sekedar bungkus cover beserta isi disc. Namun telah disertai berbagai bonus semisal guide book, pin, CD drama dan lain-lain. Membuat harganya melambung bisa mencapai 7.000 yen per volume dengan isi dua hingga empat episode . Harga ini dirasa pantas untuk sebagian penonton untuk dikoleksi.

Jeda 15 menitan biasa ditandai menggunakan eyecatch. Contoh pada video berikut ini.

Oke, di sini penulis juga masih menonton secara ilegal. Tapi sangat paham nyaris semua produksi anime itu demi mengeruk keuntungan juga. Mungkin hanya secuil yang berupa proyek sedekah atau demi menampilkan sisi artistik sutradara. Tim yang memproduksi juga masih manusia yang butuh makan minum dan biaya sewa apartemen. Meski banyak laporan kondisi kerja industri anime dalam kondisi tidak sehat, tidak bisa dipungkiri masih ada orang-orang yang memilih meraih pundi uang di sini.

Jika ada anime yang benar-benar disukai, usahakan ikut mendukung. Bila kalian menilai BD mahal, bisa memilih mendukung dengan cara membeli action figure, nendoroid, CD audio maupun merchandise resmi lainnya. Siapa tahu dengan makin banyak pembeli merchandise, komite produksi masih menganggap sebuah seri menguntungkan dan layak untuk dilanjutkan dalam media anime. Membeli ganci maupun doujin tidak resmi tak akan berdampak banyak. Tapi setidaknya bisa membantu lingkarya lokal untuk lebih berkembang.

Membeli nendoroid resmi juga ikut mendukung anime kesukaan.

Penonton anime yang masih “gratisan” tapi mengeluh di media sosial kapan seri selanjutnya tayang, sebaiknya bercermin dulu. Sudah mencari tahu penjualan BD-nya? Apakah seri kesukaanmu memang populer? Sudah berusaha mendukung? Beli merchandise resmi atau mengkoleksi BD maupun manga-nya meski versi lisensi penerbit lokal Indonesia. Bila belum, silahkan ditahan keluhannya. Memalukan saja.

Merasa sudah keluar ratusan ribu hingga jutaan? Daripada mengeluh lebih baik perbanyak menulis ulasan dan ajak agar orang lain menjadi tertarik untuk menonton. Tentu saja tak jadi sekedar penonton, tetapi ikut memberikan dukungan.

Popularitas

Kamu merasa sebuah judul anime adalah masterpiece. Ceritanya bagus, visualnya menarik, dan banyak hal-hal positif lainnya menurut kamu. Sekali lagi, menurut pendapat pribadi. Namun di mata orang lain belum tentu mendapat penilaian sama. Popularitas juga tetap perlu dibarengi poin pertama. Banyak penonton tapi tidak memberikan dukungan finansial sama saja bohong.

Indikator popularitas suatu anime bisa dilihat antara lain dari jumlah diskusi di internet, cosplayer yang menghadiri event dengan kostum terkait, jumlah ilustrasi di Pixiv maupun doujin yang dijual. Pernah melihat seseorang bercosplay menjadi karakter Glasslip? Gak ada kan? Anime jelek dan tak populer. Tidak perlu berharap season kedua meski ceritanya masih belum jelas, titik.

Kadang anime populer bukan berarti bagus dan berkualitas dari segi cerita. Di industri ini, hal lain yang diutamakan penonton adalah seri tersebut menghibur. Jadi jangan heran bila ada seri yang ceritanya jauh dari bagus bahkan mungkin tidak klik dengan seleramu, kok bisa mendapat season lengkap atau diadaptasi hingga tamat. Salah satu contoh adalah Oreimo yang sukses meraup untung di Jepang. Ternyata di mancanegara lumayan banyak yang tidak suka karena tingkah laku Kirino yang dianggap terlalu menyebalkan untuk menjadi adik.

Apa jadinya bila Yellow Pages diadaptasi menjadi anime?

Jumlah Materi Cerita

Materi di sini bukan berari uang lagi.

Cewek matre… cewek matre…Kelaut aje…

Materi yang dimaksud adalah konten cerita. Mungkin di sini pernah ada yang menonton anime Dragon Ball atau OP. Ceritanya amat panjang bahkan ada yang tak ada di manga. Episode tersebut dinamakan filler, atau pengisi agar cerita tidak mengejar manga yang masih berlanjut.

Sayangnya teknik ini tidak bisa diberlakukan sembarangan di masa sekarang. Karena semua balik pada poin pertama, uang. Kondisi ekonomi saat ini tidak memungkinkan untuk sembarang judul diisi dengan episode filler. Apalagi produksi filler menjadi cara yang tidak efisien untuk anime tengah malam. Target penonton anime tengah malam bisa mengeluh bila dimasukkan cerita yang berbeda dengan sumber asli. Sangat berbeda dengan target penonton anime Minggu pagi. Bila materi memang tidak cukup, biasanya dicarikan titik henti yang dirasa cukup memuaskan.

Salah satu contoh adalah Suzumiya Haruhi no Yuutsu season pertama. Saat itu pada 2006 memang tidak ada rencana diproduksi season kedua. Ending season pertama pun masih mampu menutup tirai cerita bagi penonton yang tidak berminat melanjutkan. Namun berkat respon luar biasa dari penggemar akhirnya dibuat kelanjutannya. Itu pun masih menunggu tiga tahun yaitu pada 2009.

Shoushitsu memberikan kejutan bagi fans yang dikecewakan E8.

Sejumlah LN juga membutuhkan penulisan yang lama. Tidak semua penulis segila Kamachi, penulis seri Toaru yang kabarnya bisa menyelesaikan satu volume buku dalam dua bulan, sambil multi tasking mengerjakan seri lain seperti Heavy Object.

Sialnya beberapa anime adaptasi kadang sengaja memancing (baca: memaksa) penonton dengan akhir menggantung agar membeli sumber aslinya seperti LN dan manga demi mengatasi rasa penasaran. Banyak sekali adaptasi LN yang berakhir menggantung. Beberapa diantaranya Rokka no Yuusha, Dantalian no Shoka dan Densetsu no Yūsha no Densetsu. Kombinasikan dengan faktor poin pertama dan kedua maka season selanjutnya tidak akan pernah ada.

Tetapi kadang ada beberapa penonton yang tidak mampu menilai bahwa cerita sudah berakhir. Beberapa anime movie populer ada yang ditanyakan kapan ada lanjutannya. Padahal movie tersebut sudah memiliki akhir cerita menutup. Bagian terbuka hanya jalinan interpersonal lebih dalam yang sudah bukan menjadi bagian topik utama movie. Ada juga anime original yang sekali lagi endingnya sudah pas, tidak perlu memaksakan ke seri baru. Untuk hal-hal seperti ini memang sebaiknya penonton perlu jeli dengan narasi yang diberikan. Bila materinya memang sudah tidak mungkin untuk diteruskan di seri baru, ya lebih baik relakan saja.

Semua yang memiliki awal pastilah memiliki akhir.

Stop, gak perlu lanjut. Ending sudah bagus.

Tidak Merasa Perlu Dilanjutkan

Diantara semua faktor, inilah yang paling sulit dikendalikan oleh fans. Biasanya keputusan terbesar memberi lampu hijau season berikutnya tetap pada penerbit dan penulis. Penerbit yang merasa sudah meraup keuntungan dan masih berjalan hanya dengan memproduksi merchandise baru, umumnya tidak mau mengizinkan atau mendanai produksi baru.

Contoh adalah penggemar Suzumiya Haruhi yang vokal menginginkan season ketiga. Namun proyek anime paling baru hanyalah Nagato Yuki-chan no Shoushitsu pada 2015 yang merupakan spin-off. Itu pun sebetulnya digunakan untuk mempromosikan manga jadi tidak diadaptasi hingga tamat. Saat ini LN seri canon-nya pun sedang hiatus.

Kadang penulis yang tidak puas dengan hasil adaptasi anime sebelumnya tidak memberikan izin untuk dibuat lanjutannya. Penulis yang sudah kuat posisinya, artinya bisa mempengaruhi jumlah penjualan buku penerbit, akan susah dibantah.

Fruits Basket adalah salah satu anime yang sempat tidak diizinkan untuk mendapat produksi season kedua. Menurut berita yang beredar, saat itu penulis manga Natsuki Takaya memberi masukan untuk sutradara. Namun idenya mendapat penolakan. Alhasil adaptasi pertama Fruits Basket memiliki plot cerita yang sedikit berbeda dengan versi manga. Hal ini membuat Natsuki Takaya membenci sutradara dan staff yang terlibat.

Fruits Basket akhirnya kembali dibuat, akan tayang April tahun ini. Kali ini Natsuki Takaya juga terlibat dan memberikan syarat semua staff seri sebelumnya tidak ada yang terlibat, termasuk seiyuu. Remake akan diupayakan setia dengan kisah asli versi manga.

Bila kalian tahu faktor apa lagi yang membuat sebuah anime tidak mendapat season baru, bisa ikut menambahkan melalui komentar.